BatamNesia – Dua nelayan tradisional asal Batam, Kepulauan Riau, akhirnya dapat kembali ke Indonesia setelah sempat hanyut hingga memasuki wilayah perairan Malaysia akibat kehabisan bahan bakar.
Proses pemulangan kedua nelayan tersebut difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru setelah keduanya ditemukan di perairan Malaysia pada akhir April 2026.
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Kuala Lumpur, Jumat (8/5/2026), KJRI Johor Bahru menyebutkan kedua nelayan berinisial Sdn dan Mdi sempat ditampung di Tempat Singgah Sementara (TSS) KJRI selama proses administrasi kepulangan.
Selain menjamin keselamatan nelayan, KJRI turut mengamankan perahu tradisional yang mereka gunakan. Perahu bermesin 250 PK itu kemudian dipersiapkan untuk proses pemulangan melalui jalur laut.
Pemulangan berlangsung melalui mekanisme serah terima di titik koordinat perbatasan perairan Indonesia-Malaysia yang telah disepakati kedua pihak. Satgas Pelindungan WNI KJRI Johor Bahru bekerja sama dengan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) Zona Tanjung Sedili untuk mengawal perjalanan nelayan menuju garis perbatasan.
Di titik perairan perbatasan, perwakilan KJRI Johor Bahru menyerahkan kedua nelayan kepada Satuan Polairud Polresta Barelang yang menggunakan Kapal Patroli Petir-28-1001.
Konsul Jenderal RI Johor Bahru Sigit Widiyanto mengapresiasi koordinasi lintas instansi yang terlibat dalam proses pemulangan tersebut. Menurut dia, kerja sama antarlembaga Indonesia dan Malaysia mempercepat penanganan warga negara yang menghadapi situasi darurat di wilayah perbatasan.
“Sinergi yang kuat antarinstansi memastikan proses pelindungan dan fasilitasi pemulangan warga negara kita dapat berjalan cepat, aman, dan lancar,” ujar Sigit.
Ia menyebut sejumlah instansi yang terlibat antara lain APMM Negeri Johor, APMM Zona Tanjung Sedili, Satuan Polairud Polresta Barelang, Polda Kepri, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Batam, Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan Batam, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau.
Kedua nelayan beserta perahunya kini telah tiba kembali di Batam. KJRI Johor Bahru menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya koordinasi lintas batas dalam penanganan nelayan tradisional di kawasan perairan perbatasan. (*)
