BatamNesia – Para insinyur industri mendorong penguatan sumber daya manusia (SDM), produktivitas, dan daya saing industri untuk memperkuat posisi Batam sebagai salah satu kawasan strategis dalam agenda reindustrialisasi Indonesia. Dorongan tersebut mengemuka dalam Konvensi Wilayah BKTI-PII Kepulauan Riau 2026 yang digelar Badan Keahlian Teknik Industri – Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI-PII) bersama Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Kepulauan Riau di Universitas Ibnu Sina, Batam, Jumat (21/8/2026).
Mengusung tema “Meningkatkan Daya Saing Industri Kawasan Perdagangan Bebas melalui SDM Unggul dan Produktif”, konvensi menjadi forum untuk mempertemukan kalangan keinsinyuran, perguruan tinggi, industri, serta para pemangku kepentingan. Pertemuan tersebut membahas berbagai tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan industri di Kepulauan Riau, khususnya dalam menghadapi perubahan dan persaingan industri global.
Sebagai kawasan yang terhubung langsung dengan perdagangan serta rantai pasok global, Batam dan Kepulauan Riau dinilai memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri nasional. Namun, penguatan industri tidak cukup hanya mengandalkan investasi dan teknologi. Ketersediaan SDM yang unggul, produktif dan adaptif terhadap perubahan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing kawasan.

Ketua Badan Keahlian Teknik Industri – Persatuan Insinyur Indonesia, Ir. Wiza Hidayat, mengatakan para insinyur profesional memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian Visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kompetensi insinyur harus mampu menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga melalui inovasi dan peningkatan produktivitas.
“Menuju Indonesia Emas 2045, kita membutuhkan insinyur profesional yang tidak hanya unggul secara kompetensi teknis, tetapi juga mampu menghadirkan solusi untuk meningkatkan produktivitas, mendorong inovasi, mempercepat digitalisasi, dan memastikan pembangunan industri berjalan secara berkelanjutan,” ujar Wiza, mengutip berita KepriPost.com.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ir. Mulia Pamadi, menegaskan bahwa karakter industri Kepulauan Riau yang semakin terhubung dengan dinamika ekonomi global menuntut penguatan kompetensi insinyur dan sumber daya manusia secara berkelanjutan.

“Perkembangan teknologi, digitalisasi, tuntutan keberlanjutan, dan dinamika industri yang semakin kompleks menuntut para insinyur untuk terus meningkatkan kompetensi dan beradaptasi terhadap perubahan. Di Kepulauan Riau, penguatan kompetensi tersebut perlu berjalan bersama dengan kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, pemerintah, dan organisasi profesi,” ujar Mulia.
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU., menegaskan bahwa Kepulauan Riau, khususnya Batam, memiliki posisi strategis dalam mendorong reindustrialisasi Indonesia. Menurutnya, penguatan produktivitas industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan peran insinyur dalam menghadirkan solusi berbasis efisiensi, inovasi, dan daya saing.
“Batam merupakan salah satu lokomotif reindustrialisasi Indonesia. Di tengah perubahan industri yang semakin cepat, peran insinyur Teknik Industri menjadi semakin penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi proses, optimalisasi sistem, serta memperkuat daya saing industri,” ujar Ilham.
Menurut Ilham, posisi Batam sebagai kawasan perdagangan dan industri yang terhubung dengan pasar global memberikan peluang besar untuk memperkuat perannya dalam rantai nilai industri nasional. Namun, keunggulan geografis dan konektivitas tersebut perlu diikuti dengan penguatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan produktivitas, serta kolaborasi lintas sektor agar industri di Kepulauan Riau mampu menghasilkan nilai tambah dan semakin kompetitif.
Dalam konteks tersebut, insinyur Teknik Industri memiliki peran penting dalam mengoptimalkan sistem secara menyeluruh, mulai dari proses produksi, efisiensi sumber daya, manajemen rantai pasok, hingga pemanfaatan teknologi dan pengembangan sistem kerja yang produktif. Peran tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya tuntutan industri terhadap efisiensi, fleksibilitas, inovasi, dan keberlanjutan.
Selain membahas penguatan daya saing industri, Konvensi Wilayah BKTI-PII Kepulauan Riau 2026 juga menghasilkan kepengurusan baru dengan ditetapkannya Prof. Larisang sebagai Ketua Badan Keahlian Teknik Industri – Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI-PII) Wilayah Kepulauan Riau Masa Bakti 2026–2029.
Dalam sambutannya, Prof. Larisang menegaskan komitmennya untuk membawa BKTI-PII Kepulauan Riau menjadi organisasi profesi yang semakin aktif, kolaboratif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi perkembangan industri di Kepulauan Riau.
“Amanah ini bukan sekadar tanggung jawab organisasi, tetapi merupakan kesempatan untuk bersama-sama membangun ekosistem keinsinyuran yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi industri dan pembangunan Kepulauan Riau,” ujar Larisang.
Konvensi Wilayah BKTI-PII Kepulauan Riau 2026 juga diselenggarakan bersamaan dengan Sijori Engineering Expo 2026, yang menghadirkan puluhan perusahaan serta menampilkan berbagai inovasi, teknologi, dan solusi untuk menjawab kebutuhan industri. Kehadiran expo tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi, inovasi, dan solusi yang dikembangkan oleh para pelaku industri dan insinyur.
Melalui Konvensi Wilayah dan Sijori Engineering Expo 2026, BKTI-PII menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi antara organisasi profesi, pemerintah, industri, dan perguruan tinggi dalam membangun SDM keinsinyuran yang unggul dan produktif. Penguatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing industri Kepulauan Riau sekaligus memperkuat kontribusi Batam sebagai salah satu lokomotif reindustrialisasi Indonesia. (*)






