Iran Ancam Balasan Menghancurkan Setelah Tuding AS Langgar MoU Perdamaian

Rahmat Ghafur

BatamNesia – Iran menuduh Amerika Serikat (AS) melanggar nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) perdamaian yang baru ditandatangani setelah Washington kembali memicu ketegangan di kawasan Selat Hormuz melalui aksi militernya.

Pernyataan tersebut disampaikan penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, pada Sabtu (27/6), beberapa jam setelah AS melancarkan serangan udara ke wilayah pesisir selatan Iran.

Melalui unggahan di platform X, Rezaei yang juga merupakan mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa tindakan Washington bertentangan dengan isi kesepakatan damai yang telah disepakati kedua negara.

“AS, dengan mendukung tindakan pasukan proksinya (Israel) di kawasan dan terus memicu ketegangan di Selat Hormuz, telah melanggar paragraf pertama dan kelima MoU perdamaian,” tulis Rezaei.

MoU yang ditandatangani pada 18 Juni tersebut mengatur penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer oleh Iran, AS, serta para sekutunya di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Kedua pihak juga berkomitmen untuk tidak memulai perang maupun operasi militer terhadap satu sama lain.

Sementara itu, pada paragraf kelima disebutkan bahwa Iran bertanggung jawab menjamin jalur aman bagi kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz selama 60 hari tanpa dikenakan biaya.

Rezaei memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons “cepat dan menghancurkan” apabila terjadi pelanggaran lebih lanjut terhadap isi kesepakatan tersebut.

Iran Sebut AS Kembali Serang di Tengah Perundingan

Dalam unggahan terpisah di platform X, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, juga menuding AS kembali melancarkan serangan ketika proses perundingan masih berlangsung.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukannya melakukan serangan terhadap Iran pada Jumat (26/6) malam sebagai respons atas serangan sehari sebelumnya terhadap sebuah kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Menurut CENTCOM, tindakan Iran tersebut telah melanggar gencatan senjata sehingga memicu operasi militer balasan dari pihak AS.

IRGC Klaim Balas Serangan AS

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian mengonfirmasi bahwa angkatan lautnya telah menyerang sejumlah posisi militer AS di kawasan Asia Barat sebagai balasan atas serangan udara yang menghantam wilayah selatan Iran.

Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa AS menggunakan insiden kapal dagang di Selat Hormuz sebagai dalih untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Iran juga memperingatkan bahwa setiap aksi militer lanjutan dari AS akan dibalas dengan respons yang lebih keras.

Ketegangan di Selat Hormuz sendiri telah meningkat sejak 28 Februari, ketika Iran mulai memperketat pengawasan di jalur pelayaran strategis tersebut. Teheran melarang kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat melintas secara aman, menyusul serangan gabungan kedua negara terhadap wilayah Iran.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Setiap eskalasi konflik di kawasan ini berpotensi mengganggu distribusi minyak global serta meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *